# Aiwaska Bicara tentang Alkimia Musik, Musik Baru, dan Kontemplasi demi Seni: TF Word

1. [TF Word](https://www.ticketfairy.com/id/word.md)
2. [Wawancara](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/interviews.md)
3. Aiwaska Bicara tentang Alkimia Musik, Musik Baru, dan Kontemplasi demi Seni

- [Wawancara](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/interviews.md)
- [Music](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/music.md)

# Aiwaska Bicara tentang Alkimia Musik, Musik Baru, dan Kontemplasi demi Seni

Produser nomine GRAMMY ini menghidupkan karnaval Brasil dalam single terbarunya bersama Milletrax, sembari merefleksikan perjalanan sejak LP keduanya, ‘Truth & Love,’ kreativitas, dan kariernya.

[Lavanya Thankappan](https://www.ticketfairy.com/id/word/author/lavanyakkt.md)

27 Agustus 2026  · Baca 12 menit

     [English](https://www.ticketfairy.com/word/2026/08/27/aiwaska-talks-musical-alchemy-new-music-and-contemplation-for-art) [Español](https://www.ticketfairy.com/es/word/2026/08/27/aiwaska-habla-de-alquimia-musical-musica-nueva-y-contemplacion-artistica) [Deutsch](https://www.ticketfairy.com/de/word/2026/08/27/aiwaska-uber-musikalische-alchemie-neue-musik-und-kontemplation-in-der-kunst) Bahasa Indonesia [Русский](https://www.ticketfairy.com/ru/word/2026/08/27/aiwaska-o-muzykal-noj-alhimii-novoj-muzyke-i-sozercanii-v-iskusstve) [Dansk](https://www.ticketfairy.com/da/word/2026/08/27/aiwaska-om-musikalsk-alkymi-ny-musik-og-kunstens-kontemplation) [Norsk](https://www.ticketfairy.com/no/word/2026/08/27/aiwaska-om-musikalsk-alkymi-ny-musikk-og-kunstens-kontemplasjon) [Svenska](https://www.ticketfairy.com/sv/word/2026/08/27/aiwaska-om-musikalisk-alkemi-ny-musik-och-konsten-att-begrunda) [Suomi](https://www.ticketfairy.com/fi/word/2026/08/27/aiwaska-puhuu-musiikin-alkemiasta-uudesta-musiikista-ja-taiteen-kontemplaatiosta)

***Produser nomine GRAMMY ini menghidupkan gambaran karnaval Brasil dalam single terbarunya bersama Milletrax, sembari merefleksikan perjalanan sejak LP keduanya, ‘Truth & Love,’ eksplorasi kreativitas bersama seniman lain, kariernya selama puluhan tahun, dan banyak lagi.***

Misteri dan anonimitas Aiwaska tak menghalangi DJ dan produser veteran yang telah menjelajahi berbagai penjuru dunia ini untuk berbincang dengan kami, menelusuri perkembangan kariernya. Setelah lebih dari tiga puluh tahun berkembang di skena, ia mengenakan topengnya pada 2026 untuk menjalankan berbagai kiprah musik dan proyek sosialnya. Dengan dua LP dalam katalog serta sederet EP dan single yang memikat hati penggemar maupun para raksasa EDM, Aiwaska terus menambah repertoarnya yang kian luas.

Karya terbarunya adalah ‘Nena’ bersama **Milletrax**, yang kini dirilis melalui label **Adesso Music** milik Junior Jack. Lagu ini merupakan perpaduan lembut instrumen Latin dan perkusi bergulir, disapu potongan vokal yang menandai atmosfer groove bermandikan matahari. Single ini hadir setelah LP keduanya yang mendapat banyak pujian, ‘Truth & Love,’ dan telah masuk ke dalam set para DJ seperti Acid Pauli, Adriatique, Vintage Culture, Paco Osuna, Claptone, dan lainnya.

Belakangan ini Aiwaska sedang sangat produktif, dan kami berkesempatan berbincang tentang alkimia musik bersama para kolaborator, pencarian kedalaman batin di tengah tren yang tak terhitung jumlahnya dan transformasi musik, kolaborasi mendatang bersama Tiger Stripes, Akira Arasawa, dan Shapov, pengembangan lebih lanjut Aiwaska Planet, serta banyak hal lainnya!

**Selamat atas perilisan single ‘Nena’ bersama Milletrax yang akan datang. Apa yang bisa Anda ceritakan tentang proses penciptaan lagu ini?**

**AIWASKA:** Bagi saya, pertanyaan tentang menciptakan lagu ini pada akhirnya adalah pertanyaan tentang hakikat musik itu sendiri. Saya semakin yakin bahwa musik tidak muncul pada saat komposisi dibuat; musik sudah ada dalam tatanan realitas yang lebih dalam, dan komponis hanya memasuki keselarasan batin tertentu dengan tatanan tersebut. Kami tidak benar-benar menciptakan Nena, melainkan berusaha menemukan bentuk yang sudah hadir dalam arsitektur bunyi yang tak kasatmata.

Yang menarik bagi kami adalah penyatuan musik elektronik dan instrumen live, bukan sebagai eksperimen teknis, melainkan pertemuan dua prinsip. Bunyi elektronik membawa kualitas waktu yang mengkristal, sementara instrumen live membawa napas kehidupan organik. Pertemuan keduanya menyerupai penyatuan batu dan cahaya, materi dan ritme, hukum dan kebebasan.

Gambaran karnaval Brasil tak pernah menjadi tema dekoratif bagi kami; ia adalah simbol misteri kuno. Karnaval adalah momen ketika struktur dunia yang kita kenal larut, sehingga tatanan yang lebih dalam dapat menampakkan diri. Apa yang dari luar tampak sebagai kegilaan mungkin, dari dalam, merupakan pembebasan kekuatan vital. Kami ingin membangkitkan tepat keadaan ketika kegembiraan berhenti menjadi sekadar emosi dan berubah menjadi dorongan kosmis yang mampu meruntuhkan dinding batin yang membatasi manusia.

Saya selalu memandang musik sebagai pembangunan kuil tak kasatmata. Setiap lagu adalah batu yang harus dibentuk, dimurnikan dari hal-hal kebetulan, lalu ditempatkan pada posisi yang tepat dalam geometri sakral karya tersebut. Dalam pengertian itu, Nena bukan kisah tentang perayaan; ia adalah eksplorasi tentang bagaimana ritme dapat membangunkan kembali ingatan seseorang akan keutuhan asalinya.

**Ini menandai kolaborasi kedua Anda dengan Milletrax; apakah pengalamannya berbeda saat menggarap masing-masing lagu?**

**AIWASKA:** Tepatnya, ini sebenarnya kolaborasi ketiga kami, dan masih ada beberapa rilisan lain yang akan menyusul. Namun, jumlah itu sendiri tidak terlalu penting dibandingkan prinsip kolaborasi. Kolaborasi sejati bukanlah penjumlahan dua pengarang; ia adalah kemunculan ruang ketiga, tempat kedua pihak tak lagi sepenuhnya menjadi milik diri mereka sendiri.

Milletrax dan saya telah berteman dekat selama bertahun-tahun, dan justru persahabatan inilah yang menciptakan kepercayaan langka terhadap hal-hal yang belum diketahui di antara kami. Saya tertarik pada instrumen live yang tak biasa, perubahan nada yang tak terduga, dan elemen bunyi yang belum masuk ke dalam kosakata musik konvensional. Milletrax, di sisi lain, memiliki kepekaan mendalam terhadap bentuk, struktur, serta kehadiran bunyi analog yang padat dan hidup. Jika dibicarakan dalam bahasa para pembangun kuno, salah satu dari kami mencari batu, sementara yang lain memahami hukum lengkungan.

Setiap lagu kami berbeda dari sebelumnya karena kami menolak mengulang formula yang telah ditemukan. Pengulangan mungkin menghasilkan keterampilan, tetapi tidak membawa kita menuju inisiasi. Kami dengan sadar memasuki wilayah yang tak menjamin hasil apa pun. Justru di sanalah musik yang hidup lahir.

Yang paling penting bagi saya adalah bahwa karya kami menyerupai proses alkimia. Materi awal selalu tidak sempurna, tetapi melalui interaksi panjang, keraguan, pelarutan, dan pembangunan kembali, perlahan-lahan ia mulai menyingkap bentuk batinnya sendiri. Dalam pengertian ini, musik serupa pembentukan batu kasar: tugas seniman bukan memaksakan kehendaknya pada materi, melainkan membebaskan arsitektur yang tersembunyi di dalamnya.

Karena itu, setiap kolaborasi menjadi lebih dari sekadar komposisi baru; ia menjadi tahap lain dalam karya pembangunan batin. Dan mungkin itulah yang membuat proses ini begitu memikat: kami tak pernah tahu pintu mana yang akan dibuka oleh batu berikutnya yang diletakkan di fondasi kuil yang belum selesai dibangun.

**‘Nena’ hadir setelah perilisan LP kedua Anda, ‘Truth & Love.’ Hampir sebulan setelah dirilis, bagaimana penerimaan album ini di kalangan penggemar dan audiens Anda?**

**AIWASKA:** Saya tidak memandang album sebagai kumpulan lagu, melainkan organisme hidup. Setiap komposisi memiliki tujuan, ritme, dan fungsi spiritualnya sendiri. Yang paling berarti bagi saya adalah melihat bahwa karya-karya ini bukan sekadar menemukan pendengar; karya-karya ini menemukan orang-orang yang dengannya mereka memasuki semacam resonansi batin.

Di dalam album ini, berbagai kekuatan hidup berdampingan: elektro, melodi Timur, komposisi berorientasi klub, dan bentuk-bentuk eksperimental. Namun, keragaman genre bukanlah tujuan kami. Sebaliknya, semuanya merupakan sisi berbeda dari satu pencarian—pencarian akan kebenaran dan cinta sebagai dua prinsip fundamental kesadaran. Kebenaran tanpa cinta menjadi geometri yang dingin, sementara cinta tanpa kebenaran larut menjadi sesuatu tanpa bentuk. Musik lahir di titik pertemuan kedua prinsip ini.

Saya sangat terdorong melihat beberapa lagu menemukan ekspresi yang begitu kuat dalam set Acid Pauli, Paco Osuna, Claptone, Adriatique, Vintage Culture, Sasha Carassi, Fideles, Joris Voorn, Joyce Muniz, Samantha Loveridge, dan banyak seniman lainnya. Komposisi yang terinspirasi musik Timur mendapat respons kuat di TikTok dan Instagram, menghasilkan lebih dari lima juta impresi. Namun, yang lebih penting adalah menyaksikan momen ketika musik mulai menjalani hidupnya sendiri.

Perjalanan yang paling tak terduga adalah lagu elektro yang kami ciptakan bersama Milletrax. Strukturnya yang tak biasa, penggunaan keheningan, dan karakter vokalnya mengubah lagu ini menjadi semacam batu kunci tersembunyi dalam album. Terkadang, karya yang tampak sebagai risiko terbesar justru menjadi batu yang menyempurnakan lengkungan. Lagu ini terhubung dengan orang-orang di lantai dansa dan lanskap budaya yang sepenuhnya berbeda karena ia berbicara bukan kepada selera, melainkan kepada ingatan ritmis yang lebih dalam dan ada di bawah kebudayaan itu sendiri.

**Apa yang bisa Anda ceritakan tentang penciptaan dan produksi ‘Truth & Love’?**

**AIWASKA:** Bagi saya, menciptakan album selalu terasa seperti membangun katedral. Sebuah lagu mungkin merupakan tiang yang indah atau jendela kaca patri, tetapi hanya keseluruhan karya yang menyingkap visi sang arsitek. Album menuntut keadaan kesadaran yang berbeda karena ia tidak dibangun berdasarkan satu kesan; ia dibangun berdasarkan perjalanan batin.

Bagi saya, Truth & Love adalah upaya menciptakan ruang inisiasi. Setiap komposisi dimaksudkan untuk menjadi bukan sekadar episode, melainkan satu langkah di sepanjang jalan. Pendengar bergerak melalui berbagai keadaan—keraguan, ketegangan, pelepasan, keheningan, ekstase—dan perlahan mulai mendengar bukan hanya musik, tetapi juga sesuatu di dalam diri mereka sendiri.

Itulah sebabnya penting bagi saya untuk menyatukan berbagai genre dan musisi. Bahasa musik yang berbeda-beda ibarat batu-batu berbeda dalam satu kuil. Tujuannya bukan agar semuanya identik, melainkan untuk melayani satu proporsi, satu harmoni yang mendasari.

Fakta bahwa album ini dirilis melalui label saya sendiri memberi saya kebebasan dalam bentuk tertentu. Ketika seorang seniman tak lagi dikendalikan ekspektasi eksternal, ia dapat mengikuti hukum batin karya itu sendiri. Ini sangat fundamental bagi saya. Seni seharusnya tidak dikendalikan pasar, melainkan oleh apa yang disebut para master kuno sebagai ukuran dan bilangan. Melalui ukuran dan bilanganlah bentuk sejati terwujud.

Saya yakin karya seni yang autentik mulai muncul ketika pengarang berhenti menjadi pemiliknya dan menjadi pelayannya. Album ini bukan milik saya; saya hanya berpartisipasi dalam proses penyingkapannya. Dan jika album ini memiliki rasa keutuhan, itu bukan karena kehendak saya, melainkan karena harmoni tak kasatmata yang selalu mendahului ciptaan manusia.

**Bagaimana pengalaman berkolaborasi dengan Prana Flow, G.Zamora, dan Thomas Gandey untuk album ini?**

**AIWASKA:** Saya tidak memandang kolaborasi sebagai perpaduan sederhana keterampilan profesional. Kolaborasi sejati hanya muncul ketika beberapa individu menjadi bagian dari satu karya batin bersama. Dalam tradisi kuno, bengkel bukan sekadar tempat benda-benda diciptakan; ia adalah tempat sang pencipta sendiri berubah melalui proses tersebut. Musik mempertahankan prinsip kuno ini.

Prana Flow, G. Zamora, dan Thomas Gandey bukan sekadar musisi; mereka adalah individu yang memiliki keberanian untuk memasuki ranah yang belum diketahui. Yang menghubungkan kami bukan gaya tertentu, melainkan pemahaman bersama tentang kreativitas sebagai bentuk eksplorasi kesadaran. Masing-masing dari kami membawa bahasa sendiri ke dalam proses, tetapi tujuannya bukan mempertahankan keterpisahan kami, melainkan menemukan tatanan yang lebih tinggi, tempat suara-suara individual menjadi instrumen dari komposisi yang lebih besar.

  [Aiwaska at Odyssey Festival | 7 Wonders](https://www.youtube.com/embed/fH_M3F-eQtA?feature=oembed)

Saya selalu tertarik bekerja dengan orang-orang yang tidak takut mempertanyakan dan melarutkan bentuk-bentuk mapan mereka sendiri. Sebab hanya melalui penghancuran atas sesuatu yang telah menjadi utuh, sesuatu yang belum selesai dapat menyingkapkan dirinya. Dan justru di dalam ketidakselesaian itulah kemungkinan penyingkapan berada.

**Apa yang Anda pelajari dari kolaborasi yang akan Anda bawa ke proyek-proyek mendatang?**

**AIWASKA:** Kolaborasi mengajarkan saya bahwa ilusi terbesar yang dapat dimiliki seorang seniman adalah keyakinan bahwa ia sudah mengetahui batas-batas bahasanya sendiri. Setiap kali melintasi batas yang sudah dikenal, kita tidak menemukan kekosongan; kita memasuki medan keberadaan yang baru.

Saya semakin percaya bahwa arus kreatif tidak dapat dikendalikan dalam pengertian biasa. Arus itu hanya dapat dimungkinkan. Sebagaimana arsitek tidak menciptakan hukum gravitasi, melainkan membangun selaras dengannya, seniman tidak menciptakan inspirasi itu sendiri; ia membangun arsitektur batin yang mampu menerimanya.

Itulah sebabnya perjalanan lagu “Love & Truth” begitu mendalam bagi saya. Awalnya saya membayangkannya sebagai pembuka kontemplatif—hampir seperti ambang yang akan dilalui pendengar untuk memasuki dunia batin album. Namun, dalam prosesnya, lagu ini berubah menjadi komposisi dancefloor yang kuat. Ia menjadi pelajaran tentang kerendahan hati. Karya tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki arahnya sendiri, melampaui niat awal saya.

Terkadang, benih yang kita anggap sebagai bunga hias sederhana menyimpan potensi untuk menjadi pohon yang mampu mengubah seluruh lanskap. Peran seniman bukan memaksakan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya pada ciptaan, melainkan memiliki keberanian untuk membiarkan kemungkinan tersembunyi itu menyingkapkan dirinya.

**Apa yang membuat sebuah kolaborasi benar-benar memikat bagi Anda?**

**AIWASKA:** Bagi saya, kolaborasi benar-benar hidup hanya ketika terhubung dengan pencarian kebenaran bersama. Ketika orang-orang bersatu semata-mata demi hasil, mereka menciptakan struktur. Namun, ketika mereka bersatu dalam semangat penemuan, mereka menciptakan organisme.

Saya tertarik pada musisi yang tidak terikat pada ego mereka sendiri. Ego secara alami membangun dinding, sementara seni menuntut pembangunan jembatan. Kolaborasi sejati menyerupai karya pematung kuno, ketika setiap orang membentuk batunya sendiri, tetapi tak seorang pun mengklaim kepemilikan atas patung itu.

Pada momen inilah apa yang saya sebut alkimia musik mulai muncul. Ini adalah keadaan ketika kita tak lagi dapat menentukan siapa pemilik gagasan awal, karena gagasan itu sendiri telah melampaui individu dan menjadi bagian dari ruang di antara orang-orang. Pada titik tersebut, musik berhenti menjadi sekadar ekspresi kepribadian dan berubah menjadi perwujudan hukum yang lebih besar—sebuah prinsip yang menampakkan diri sebagai sesuatu yang lebih kuat daripada kehendak individu.

**Dibandingkan dengan proses kreatif Anda untuk rekaman tahun 2025, ‘Flora Fauna,’ apakah ada perbedaan pendekatan saat membuat ‘Truth & Love’?**

**AIWASKA:** Saya tidak suka membandingkan karya seni, karena setiap ciptaan merupakan bagian dari tahap tertentu dalam biografi batin. Kita sering mengira pencipta tetap menjadi orang yang sama sepanjang perjalanan, tetapi itu adalah ilusi. Kesadaran terus-menerus mengalami kematian dan kelahiran kembali.

Ada gambaran kuno tentang batu yang belum dipahat dan batu yang telah disempurnakan. Keduanya bukan dua objek terpisah, melainkan dua keadaan dari wujud yang sama. Transformasi yang sama berlangsung dalam diri manusia. Setiap album yang selesai mengambil satu bentuk keberadaan dari sang seniman dan menuntut lahirnya bentuk yang lain.

  [Aiwaska at Tea Plantations](https://www.youtube.com/embed/O27KRfPID1E?feature=oembed)

Karena itu, “Flora Fauna” dan “Truth & Love” bukan sekadar bab-bab berurutan dalam sebuah cerita; keduanya adalah dua inisiasi yang berbeda. Satu album merupakan dialog dengan alam sebagai organisme hidup dunia, sementara yang lain mengeksplorasi polaritas batin antara kebenaran dan cinta sebagai prinsip fundamental perkembangan spiritual.

Saya percaya seorang seniman tak boleh berusaha mengulang dirinya sendiri. Pengulangan memperkuat kepribadian, tetapi melemahkan jiwa. Seni harus tetap menjadi jalan transformasi, bukan sekadar catatan biografi.

**Dalam karier panjang Anda yang telah mencakup tiga dekade di industri musik, tren atau evolusi apa yang paling menghibur Anda?**

**AIWASKA:** Selama tiga puluh tahun, saya telah menyaksikan transformasi yang tak terhitung: perkembangan teknologi, perubahan struktur industri, percepatan penyebaran musik, serta cara orang mengalaminya. Namun, semakin dunia luar berubah, semakin jelas satu kebenaran terungkap: pada akhirnya manusia tidak sedang mencari bunyi; mereka sedang mencari makna.

Tren musik itu sendiri tidak mengejutkan saya. Yang memikat adalah betapa cepat peradaban mulai menyembah alat-alatnya, sembari melupakan tujuan alat tersebut. Teknologi adalah palu yang luar biasa, tetapi palu itu tidak tahu apa pun tentang kuil yang hendak dibangunnya.

Hari ini, prinsip yang membimbing saya sangat sederhana: menciptakan musik sedemikian rupa sehingga membantu seseorang mengingat kedalaman batinnya sendiri. Jika sebuah karya tidak memperluas kesadaran, ia hanya menjadi hiburan. Hiburan dapat menghadirkan kesenangan, tetapi tidak mengubah arsitektur batin manusia.

Saya percaya seni sejati harus memulihkan kemampuan manusia untuk berkontemplasi. Sebab melalui kontemplasilah tanggung jawab lahir, dan tanpa tanggung jawab, masa depan yang bermakna tak dapat dibangun.

**Apa yang bisa kami nantikan dari Anda dalam beberapa bulan ke depan?**

**AIWASKA:** Di permukaan, akan ada rilisan dan proyek baru, tetapi secara batin saya memandang periode berikutnya sebagai kelanjutan dari satu jalan yang lebih besar.

Ada kolaborasi yang sedang dipersiapkan bersama Tiger Stripes, EP bersama musisi Jepang Akira Arasawa akhirnya telah rampung, termasuk remix kuat dari Alican, dan pada musim gugur akan hadir kolaborasi baru bersama Shapov. Masing-masing proyek ini memiliki identitas soniknya sendiri, tetapi semuanya disatukan oleh satu niat yang sama—mengeksplorasi bentuk-bentuk baru kesadaran musikal.

 *Gambar dari Aiwaska*

Salah satu arah yang sangat bermakna bagi saya adalah pengembangan lebih lanjut Aiwaska Planet. Saat ini kami sedang menciptakan wewangian baru, dan banyak orang terkejut bahwa musik dan aroma hadir dalam semesta artistik yang sama. Namun, dalam tradisi misteri kuno, bunyi, wewangian, cahaya, dan ruang tak pernah dipandang sebagai elemen yang terpisah. Semuanya dianggap bagian dari satu arsitektur persepsi yang utuh.

Itulah sebabnya, dalam penampilan saya, saya menggunakan komposisi aromatik yang dibuat khusus. Aroma memiliki kemampuan membangunkan lapisan-lapisan ingatan yang tak dapat diakses intelek. Aroma menjadi dimensi tak kasatmata dari pengalaman musikal.

Wewangian baru ini akan didedikasikan untuk Great Architects of the World. Bagi saya, gambaran ini merepresentasikan prinsip penciptaan abadi, yang melaluinya kekacauan perlahan menjadi kosmos. Setiap manusia membawa gambaran arsitek batin dalam dirinya. Namun, arsitek ini baru mulai berbicara ketika seseorang berhenti membangun semata-mata dunia luar dan mulai mengerjakan pembangunan dirinya yang lebih dalam.

Kami juga sedang aktif mengembangkan visualisasi digital semesta kami, untuk mengungkap filosofi proyek ini secara lebih mendalam dan menarik perhatian pada misi utama kami—mendukung lingkungan serta melindungi satwa liar.

Saya percaya seni masa depan harus bukan hanya estetis, tetapi juga etis. Seni harus menciptakan bentuk-bentuk yang mampu menyembuhkan keterpisahan antara manusia, alam, dan fondasi spiritual keberadaan. Jika musik tidak menjadi tindakan cinta, ia hanya akan tetap menjadi bunyi. Namun, ketika musik menjadi tindakan cinta, ia berubah menjadi pembangunan sebuah gambaran tak kasatmata—gambaran yang telah dibangun umat manusia sepanjang zaman.

**Ikuti TFword di: [Instagram](https://www.instagram.com/tf.word/) | [Facebook](https://www.facebook.com/thefckingword) | [X](https://x.com/thefckingword)**

**Anda Mungkin Juga Suka:**

[Di Balik Layar Crossover Lintas Genre Jack Marlow](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/07/17/behind-the-scenes-of-jack-marlows-genre-blurring-crossover)

[LEGION Mengupas Perjalanan di Balik ‘Wakefield Dub’](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/06/25/legion-breaks-down-the-journey-behind-wakefield-dub)

[Menyelami Mekanisme Groove Retro-Futuristis Franz Scala](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/01/22/inside-the-mechanics-of-franz-scalas-retro-futurist-groove)

Bagikan

 [X](https://twitter.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.ticketfairy.com%2Fid%2Fword%2F2026%2F08%2F27%2Faiwaska-bicara-tentang-alkimia-musik-musik-baru-dan-kontemplasi-demi-seni.md&text=Aiwaska+Bicara+tentang+Alkimia+Musik%2C+Musik+Baru%2C+dan+Kontemplasi+demi+Seni) [Facebook](https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwww.ticketfairy.com%2Fid%2Fword%2F2026%2F08%2F27%2Faiwaska-bicara-tentang-alkimia-musik-musik-baru-dan-kontemplasi-demi-seni.md) [WhatsApp](https://api.whatsapp.com/send?text=Aiwaska+Bicara+tentang+Alkimia+Musik%2C+Musik+Baru%2C+dan+Kontemplasi+demi+Seni+https%3A%2F%2Fwww.ticketfairy.com%2Fid%2Fword%2F2026%2F08%2F27%2Faiwaska-bicara-tentang-alkimia-musik-musik-baru-dan-kontemplasi-demi-seni.md)

## Lavanya Thankappan

Editor & writer at TFword. (she/her)

 [Lainnya dari Lavanya Thankappan →](https://www.ticketfairy.com/id/word/author/lavanyakkt.md)

Buletin TF Word

## Dapatkan TF Word di email Anda

Satu email setiap minggu: cerita yang layak dibaca dan pertunjukan yang layak didatangi. Tanpa spam, berhenti berlangganan kapan saja.

    Alamat emailmu

Dengan berlangganan, Anda menyetujui [kebijakan privasi](https://www.ticketfairy.com/privacy-policy) kami. Anda langsung masuk daftar, dan setiap email punya tautan berhenti berlangganan.

## Lanjut baca

 [Semua Wawancara →](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/interviews.md)      [Wawancara](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/interviews.md)

### [Exploring the Dualities of Mumbai-Based Duo Psycho Baiko](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/08/28/exploring-the-dualities-of-mumbai-based-duo-psycho-baiko.md)

Sagar Deshmukh  28 Agu 2026

      [Pilihan](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/featured.md)

### [Kini, Artis Bisa Menjual Musik Langsung kepada Penggemar di SoundCloud](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/08/28/kini-artis-bisa-menjual-musik-langsung-kepada-penggemar-di-soundcloud.md)

Ivanova  28 Agu 2026

      [Pilihan](https://www.ticketfairy.com/id/word/category/featured.md)

### [STAY GOLDEN Rilis Album Debut ‘Silent Covenant’ di All Day I Dream](https://www.ticketfairy.com/id/word/2026/08/25/stay-golden-rilis-album-debut-silent-covenant-di-all-day-i-dream.md)

Sagar Deshmukh  25 Agu 2026
