‘Black Is King’ Milik Beyonce Jadi Mata Kuliah di Harvard
Album visual penuh Beyonce, ‘Black Is King’, menjadi bahan ajar program di The Harvard Museum of Science & Culture tentang tingginya status perempuan di Kush.
Album visual penuh Beyonce, ‘Black Is King’, menjadi bahan ajar sebuah program di The Harvard Museum of Science & Culture. Program bertajuk ‘Black Is Queen: The Divinie Feminine in Kush’ ini menggunakan lagu-lagu dari ‘Black Is King’ untuk mengiringi mata kuliah yang ‘menyoroti tingginya status perempuan’ di Kerajaan Nubia Kush (kini Sudan Utara). Film Disney+ yang disutradarai langsung oleh Beyonce tersebut dirilis sebagai reka ulang visual untuk The Lion King: The Gift milik Disney pada Juli tahun lalu.
‘Black Is King’, dengan The Gift sebagai soundtrack, menceritakan kembali kisah yang berpusat pada keunggulan orang kulit hitam, dan kini tentang ‘Beyoncé berusaha mengembalikan kejayaan itu kepada mereka yang merupakan bagian dari garis keturunannya.’ Program Harvard ‘Black Is Queen: The Divinie Feminine in Kush’ yang digelar pada 25 Maret melalui Zoom berfokus pada kekuatan dan kendali besar yang dijalankan perempuan di Kerajaan Nubia Kush. Kajian ini menggunakan ‘prasasti kuil yang ditemukan di Mesir dan Nubia, benda-benda pemakaman kaya yang ditemukan di makam kerajaan, serta gambaran pada kuil dan makam, untuk memahami bagaimana orang Afrika kuno di Lembah Nil memaknai kekuatan dan kehadiran perempuan.’ Menurut situs web universitas tersebut, ““Black Is King” akan dirangkai ke dalam presentasi tentang ratu-ratu Kushite ini untuk menekankan kekuatan dan posisi sentral ibu suri Afrika dalam keluarga kerajaan dan kerajaannya.”
Program ini dipimpin oleh pembicaranya, Solange Ashby, Adjunct Professor di Department of Classics and Ancient Studies, Barnard College. Ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang Egiptologi, dengan spesialisasi ‘bahasa Mesir kuno dan agama Nubia dari University of Chicago.’ Dr. Ashby saat ini meneliti peran perempuan dalam praktik keagamaan tradisional Nubia, sekaligus mengerjakan monograf pertama yang didedikasikan untuk simbolisme keagamaan, sejarah, dan kekuatan politik para ratu Kush. Penggunaan lagu-lagu dari ‘Black is King’ dalam program yang berfokus pada ratu-ratu Kush merupakan bagian dari pengajarannya di Barnard College.
Setelah merilis album visual yang mendapat pujian kritis, ‘Lemonade’, pada 2016, penyanyi ‘Formation’ itu berhenti sejenak merilis album studio dan justru menghadirkan sejumlah proyek istimewa – penampilan Beyonce di Coachella pada 2018 (yang populer disebut Beychella) beserta film konser pendampingnya, ‘Homecoming’; ia mengisi suara Nala dalam Lion King, disertai album The Gift, yang secara khusus dibuat untuk memperkenalkan keindahan musik Afrika dengan bantuan para seniman kulit hitam serta penyanyi dan produser Afrika yang kurang mendapat perhatian. Album ini menampilkan Jay-Z, Pharrell, Childish Gambino, ‘bintang Nigeria Wizkid dan Tiwa Savage, Moonchild Sanelly dari Afrika Selatan, serta Shatta Wale dari Ghana; sementara rekaman ini memuat lirik dalam bahasa Swahili, Yoruba, dan Afrikaans, di antaranya.’
Gambar Utama Via Dezeen.
